Gloomy Gift For Your April

Halo, worms! Dalam tiga hari ke depan, Klub Baca Bandung akan mengadakan agenda pertama di bulan April yang akan jatuh pada tanggal 12 April 2015.

Buku yang akan menjadi primadona kali ini adalah sebuah buku fresh from the oven dari Bentang Pustaka berjudul Gloomy Gift karya Rhein Fathia. Kalau kamu yang sudah membaca Seven Days, dan Coupl(ov)e pasti tahun dong dengan kak Rhein? Yup, kali ini di awal 2015, kak Rhein muncul dengan karya terbarunya yang tentu saja tidak jauh-jauh dari romance. Tapi tidak berhenti di situ saja, kali ini dia mencampurkan genre romance dengan action worms! Nah, kebayang kan gimana serunya cerita yang akan dihadirkan.

Bertempat di sebuah cafe mungil nan sejuk di wilayah Dago, Bandung bernama Cokotetra (Cokelat, Kopi, Teh, Sastra) Gloomy Gift akan disantap oleh peserta Klub Baca Bandung yang akan hadir. Tidak hanya di situ saja, kali ini kak Rhein Fathia sendiri yang akan hadir dan menjawab pertanyaan kamu seputar dunia kepenulisan dan proses kreatifnya dalam karya terbarunya itu. Di sana juga akan hadir beberapa teman dari Akademi Bercerita Bandung yang ikut meramaikan agenda kita besok lho.

Dan seperti biasa, agenda Klub Baca Bandung selalu gratis. Karena membaca saja mengapa harus bayar, kan? Tapi jangan khawatir acaranya nanti garing karena teman-teman dari Bentang Pustaka akan bagi-bagi door prize untuk mereka yang beruntung.

Jadi kalau hari Minggu kamu hanya diam di rumah dan enggak punya acara, kamu perlu datang kumpul-kumpul bermutu kayak Klub Baca Bandung. Apalagi buat kamu yang suka menulis dan baca buku, kamu bakal ketemu dengan teman-teman baru yang menyenangkan, worms!

Berikut detail agenda Klub Baca Bandung besok.
image

Iklan

Nulis Bareng Rak Buku

Dengan mengambil tempat di sebuah café dan resto menarik di tengah kota Bandung, Penerbit Rak Buku menyelenggarakan sebuah acara talkshow buku dan mini workshop kepenulisan dengan mengundang beberapa penulis. Acara dimulai tepat pukul 16.00, dipandu oleh Adit sebagai MC, sesi pertama mereka mengundang Risa Saraswati untuk berbicara mengenai buku terbarunya berjudul R.I.S.A.R.A. yang kali ini merupakan hasil kolaborasi dengan Sara Wijayanto.

Risa bercerita bahwa buku ini awalnya merupakan hasil ketidaksengajaan karena kedekatan teman-teman hantu kecil Risa yang juga dekat dengan Sara. Karena seperti yang kita ketahui bahwa Risa dan Sara memiliki kemampuan untuk melihat makhluk gaib seperti hantu. Risa bercerita dalam hal membangun kesamaan visi membangun sebuah cerita kolaborasi ini, tidak terdapat kesulitan yang berarti, Risa mengisahkan, bagaimana mereka lebih sering berkomunikasi melalui email dan media chatting Whatsapp meski mereka jarang bertemu karena jadwal dan kota yang berjauhan.

Satu hal yang Risa selalu ingin tekankan kepada para pembacanya adalah tentang bagaimana ia berusaha menampilkan sisi humanis dari hantu-hantu kecilnya ini sehingga bisa diterima oleh orang yang membacanya. Karena seperti yang kita ketahui selama ini, jika ada sebuah tulisan bergenre horror dan misteri, kesan yang ingin dibangun adalah tentang bagaimana hantu itu seram, menakutkan orang yang melihatnya dan lain-lain. Oleh karena itulah Risa lebih tertarik untuk mendengar kisah-kisah dari hantu ini ke dalam tulisannya. Tapi ketika ditanya apakah hantu-hantu yang selama ini ia lihat menakutkan baginya, Risa sendiri membenarkan hal tersebut.

Dalam kaitannya dengan dunia tulis menulis, tantangan yang beliau hadapi saat ini adalah bagaimana menggambarkan sebuah kisah horror yang pada dasarnya bisa diceritakan dalam satu-dua kalimat saja menjadi sebuah cerita yang menarik untuk dibaca dalam sebuah buku. Risa sendiri mengakui bahwa beberapa gaya kepenulisannya sangat terpengaruh dengan bahan bacaan yang biasa dia baca seperti Goosebumps. Sedikit banyak cerita-cerita horror tersebut mempengaruhi gaya bahasanya dalam cerita. Namun ketika ditanya bagaimana caranya agar mampu menulis dengan baik, beliau menyarankan untuk selalu memposisikan diri kita sebagai pembaca ketika tulisan kita sudah selesai.

Risa bercerita bahwa dia tidak pernah menghapus tulisan yang pernah dia buat. Semuanya tersimpan rapi dalam satu folder khusus. Bahkan ketika mulai menulis salah satu bukunya berjudul Ananta Prahadi yang notabene merupakan sebuah karya fiksi romance, beliau mendapat ide dari kumpulan tulisan-tulisan yang belum selesai dalam folder khusus tersebut yang pada awal menulisnya dia menganggap kurang bagus. Risa berpendapat sangat penting untuk bisa mendapatkan cerita kita dibaca oleh orang lain terlebih dahulu. Karena itu dia sering sekali beberapa ceritanya dimunculkan dalam blognya sedikit demi sedikit untuk melihat respon dari pembaca blognya.

Setelah sesi tanya jawab berakhir dan waktu menunjukkan waktu maghrib, ada jeda break untuk sholat dan makan yang memang telah dipersiapkan oleh panitia dari Rak Buku. Beberapa peserta kemudian mengambil makanan dan sembari makan acara kembali bergulir, di luar hujan rintik-rintik perlahan menjadi deras, mengaburkan suara dari microphone yang digunakan oleh pembicara. Di atas panggung telah ada Dewi Fita selaku Editor-in-Chief dari Penerbit Rak Buku yang telah hadir untuk memberikan insight dari pihak penerbit dalam kaitan dengan kepenulisan dan penerbitan.

Dimulai dengan menjelaskan track record dari Penerbit Rak Buku yang meski merupakan pemain baru dalam industri buku di Indonesia, tetapi telah mampu menghasilkan beberapa penulis dengan karya yang best-seller secara nasional, seperti buku-buku Risa Saraswati, Ernest Prakasa, dan yang paling terbaru adalah adari Info Watir. Dalam mencari karya-karya yang menarik ini, Dewi berkata bahwa kekuatan ceritalah yang nantinya akan membuat sebuah buku itu menjadi buku yang bagus. Bahkan di tengah begitu maraknya teknologi saat ini, dunia kreatif seperti industri buku menghadirkan sebuah peluang baru ke mana saja bagi para penulis.

Kemudian berlanjut dengan obrolan kepenulisan dengan dua narasumber yang telah hadir yaitu Mahir Pradana dan Theoresia Rumthe atau yang sering para blogger kenal sebagai @perempuansore Dalam kaitannya dengan mencari ide, Theo mengatakan bahwa ide itu ada di mana saja. Ide bukanlah sesuatu yang harus kita baca dari buku atau melakukan riset di perpustakaan dengan membaca, tetapi ide kadang datang dengan cara-cara yang sederhana. Beliau mengisahkan bahwa ia kerap menulis di jam 4 sore. Mengapa di jam 4 sore? Karena di waktu itulah dia merasa menemukan mood paling bagus untuk menulis, di samping rutinitas bangun pagi yang sulit dia lakukan. Mood menulis ini menurutnya penting untuk didapat, karena dengan begitu dia merasa mampu untuk menulis apa saja. Kebiasaannya menulis pun dimulai sejak dulu ketika beliau masih aktif menulis diary dan berlanjut hingga menjadi blogger sekarang.

Berbeda dengan Mahir yang mengatakan bahwa rutinitas menulisnya sendiri merupakan sesuatu yang menjadi pekerjaan sampingan baginya. Waktu yang paling tepat baginya untuk menulis adalah sebelum tidur malam hari. Beliau sendiri bercerita bahwa kadang cerita-cerita yang dia tulis berangkat dari mimpinya di malam hari, ketika bangun dari tidur sendiri, tidak jarang Mahir mencatat apa yang dia impikan. Ketika ditanya bagaimana tips yang bisa dilakukan ketika di tengah proses menulis kita malas untuk melanjutkannya, Mahir menjawab dengan mengambil sebuah kuotasi dari Windy Ariestanty yang mengatakan bahwa ‘menulis bukan pekerjaan untuk pemalas’ meski menyadari bahwa writer’s block sendiri memang ada, Mahir lebih memilih untuk tulis saja semua yang bisa ditulis.

Dalam sesi tanya jawab yang mengalir dan penuh dengan keseruan tersendiri itu, saya melihat bahwa sebenarnya tidak ada rahasia dalam menulis dan menjadikan karya kita sesuatu yang baik untuk dibaca oleh orang banyak. Bahkan Dewi Fita mengatakan bahwa tidak ada cara yang untuk menulis baik selain dengan menulis. Mungkin yang menjadi persoalan adalah kebanyakan penulis pemula melakukan penundaan untuk menulis meskipun sudah ada ide itu. Padahal yang dibutuhkan ide hanyalah untuk ditindaklanjuti.

Acara hari itu berakhir dengan sesi foto bersama dan meski hujan sudah reda di luar sana, beberapa peserta masih terlihat mengambil kesempatan untuk berfoto bersama dengan narasumber yang telah hadir. Bertemu dengan orang-orang di belakang layar dari sebuah penerbitan bagi saya pribadi merupakan sebuah keistimewaan, seolah-olah kita bisa belajar banyak untuk melihat bagaimana penerbit selaku investor dalam industri ini memegang peranan penting dalam proses penerbitan sebuah buku. Dan penulis tentunya diharapkan mampu memberikan sebuah karya dengan keunikannya masing-masing.

Saya berharap dari acara-acara kecil seperti ini, dengan intensitas dan semangat untuk maju, akan dihasilkan penulis-penulis muda berbakat yang bisa memberikan kontibusi bagi dunia kepenulisan baik di Bandung atau di Indonesia. Semoga.

Salam.

Ariel Seraphino

[Liputan Kegiatan] 28 Detik

Di hari Minggu yang cerah di tengah ke’galau’an cuaca Bandung, sejumlah orang memadati sudut sebuah cafe di bilangan jalan Dago. Cokotetra. Cafe ini kembali menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Klub Baca Bandung.

CAn23clUQAEl0Xu.jpg large

Kegiatan kedua ini berlangsung lebih ramai dan lebih lama dari sebelumnya. Dengan antusiasme yang membuat saya bersemangat.

Hari itu, Minggu, 22 Maret 2015 saya didaulat menjadi pembahas untuk novel yang akan dibaca bersama hari itu, “28 Detik” karya Ifa Inziati. Kali ini kegiatan Klub Baca Bandung terasa lebih spesial karena penulisnya pun turut hadir. Ini jadi kesempatan untuk mendengarkan proses kreatif karya ini.

“28 Detik” terpilih menjadi juara satu dalam lomba menulis “Passion Show” yang diadakan oleh Bentang Pustaka. Dan menurut penuturan Ifa, karya ini setelah dinyatakan sebagai pemenang, mengalami proses panjang sebelum bisa sampai ke tangan pembaca. “Prosesnya sekitar satu tahun,” jelasnya.

Saya pribadi pun akhirnya mengangguk paham saat mengetahui lamanya proses tersebut. Inilah yang membuat karya ini matang dan nikmat dibaca. Novel “28 Detik” ini mengambil sudut pandang yang menarik dalam menuturkan ceritanya. Menggunakan sudut pandang orang pertama dari sebuah benda mati. Ya, benda mati. Ia adalah Simoncelli, mesin espresso yang ada di Kedai Kopi Kasep.

Novel “28 Detik” ini juga sangat informatif. Proses pembuatan kopi dituangkan dengan cukup detail. Bahkan penulis sempat menyisipkan tentang potensi Indonesia sebagai negara yang bisa hidup dari kopi. Menarik bukan? Untuk review lebih lanjut sila baca Review 28 Detik ini –> http://atriadanbuku.blogspot.com/2015/03/28-detik.html

Sebenarnya kegiatan Klub Baca Bandung kemarin lebih berwarna dari sebelumnya karena audience yang datang punya latar belakang yang menarik. Salah satunya adalah Bunda Intan yang datang karena senang membaca buku serta menulis. Di tambah lagi lokasi kegiatan yang dekat dari rumahnya. Menariknya Bunda Intan adalah seorang nenek bagi 6 orang cucu. Tapi semangat beliau untuk hadir tidak kalah dari worms lain yang masih muda. Wah, gak boleh kalah dari beliau nih.

CYMERA_20150324_201239

Ah, inilah yang menyenangkan dari sebuah kegiatan komunitas. Kita jadi punya teman baru. Spesialnya, kita jadi punya teman sehobi. Seru kan? Jadi jangan lewatkan kegiatan Klub Baca Bandung berikutnya. Nah, rangkaian acara yang dimulai dari jam 11 ini berakhir sekitar jam 12.30. Tapi setelah itu, semua peserta tidak segera meninggalkan lokasi. Obrolan berlanjut dan membuat semua worms yang datang jadi semakin akrab.

IMG_20150322_121938

Tanggal 12 April 2015 nanti akan dibahas buku terbaru dari Bentang Pustaka berjudul Gloomy Gift karya Rhein Fathia. Psst.. kali ini pun penulisnya akan datang , lho. Yuk segera ramaikan.

Tulisan repost dari blog http://atriadanbuku.blogspot.com/2015/03/liputan-kegiatan-28-detik-di-22-maret.html

Cerita 28 Detik dan Kopi

Agenda Klub Baca Bandung kali ini adalah mendaras buku seorang penulis muda dari Bandung bernama Ifa Inziati. Kebetulan naskahnya sendiri adalah salah satu naskah yang memenangkan kompetisi Passion Show yang diselenggarakan oleh Bentang Pustaka tahun lalu. Sejak jam 11 pagi acara telah dimulai dengan dipandu oleh Atria Dewi Sartika dari Akademi Bercerita Bandung. Beberapa peserta telah hadir meski tidak banyak, tetapi suasana coffee shop Cokotetra yang tenang juga menjadi salah satu hal yang menurut saya mendukung ketika melangsungkan acara seperti ini.

IMG_20150322_110858

Atria bercerita tentang bagaimana pendapatnya terhadap buku tersebut. 28 Detik yang memunculkan isu tentant suatu kelainan yang dimiliki oleh manusia, yaitu Sinestesia, menjadi perhatian Atria dalam buku itu. Dia berkata bahwa isu sinestesia ini kurang ditonjolkan dalam cerita dan kurang lebih hanya sebagai selingan dan “tempelan” dari cerita besar yang berusaha penulis kisahkan dalam bukunya. Kemudian disambung dengan Ifa sendiri sebagai penulis yang kemudian menjelaskan berbagai hal tentang bukunya hingga proses kreatif yang beliau jalani dalam menyelesaikan naskah tersebut. Ifa berkata bahwa naskahnya sendiri mengalami proses editing dan revisi yang cukup lama hingga akhirnya bisa diterbitkan pada November 2014 yang lalu. Keunggulan buku ini sendiri menurut saya adalah terletak pada bagaimana penulis menceritakan ini tidak hanya sebagai sudut pandang orang ketiga, tetapi juga menghadirkan sebuah mesin pembuat kopi bernama Simoncelli yang menjadi pihak yang melihat segalanya berlangsung alih-alih berusaha menjelaskan semuanya sebagai sesuatu yang lain.

IMG_20150322_111929IMG_20150322_110858

Saya sendiri menyukai kisah ini sebagaimana mestinya. Tentunya ketika kita membaca sebuah karya yang berada di luar kebiasaan kita pada referensi membaca, akan terdapat beberapa ketidakcocokan. Saya sendiri tidak begitu menggemari kisah remaja yang jatuh cinta dan lain sebagainya itu, tetapi saya bisa katakan bahwa kisah cinta yang berusaha Ifa suguhkan dalam bukunya 28 Detik ini cukup mampu stand out dari beberapa naskah lain yang bisa dibilang sejenis. Bisa jadi itu pulalah yang kemudian mengantarkan naskah ini memenangkan kompetisi Passion Show dan berhasil diterbitkan.

Setelah bergantian memberikan komentarnya pada sesi tanya jawab tersebut, acara dilanjutkan dengan membaca buku 28 Detik secara bergantian. Di sini para peserta akan disodori buku tersebut untuk dibaca beberapa bagian yang dirasa menarik, tidak menjadi soal jika kemudian belum pernah membaca buku ini sama sekali, karena sebenarnya pointnya bukan di situ. Tetapi pada kegiatan membaca dan menyimaknya secara bersama-sama dalam suatu komunitaslah yang menjadi penting. Di acara ini juga terdapat salah seorang peserta yang usianya sudah lebih senior dari rata-rata peserta yang hadir, beliau biasa dipanggil dengan Bunda Intan yang katanya memang hobi membaca sejak dulu dan mengetahui Klub Baca Bandung dari kegiatannya bermain sosial media Facebook. Setelah memasuki sesi perkenalanlah kemudian beliau bercerita panjang lebar bahwa beliau sebenarnya sudah nenek dengan 6 cucu, lho! Keren banget kan, di usia yang sudah tidak muda lagi, tetapi beliau masih semangat ikutan acara yang bahkan rata-rata usia yang lain seumuran dengan anaknya, dan semangat inilah yang kemudian membuat peserta lain menjadi lebih hidup.

IMG_20150322_115348

Menjelang siang, peserta semakin banyak berdatangan untuk ikut serta dalam kegiatan Klub Baca Bandung kali ini. Meski kemudian agenda yang ada hanya tinggal perkenalan dan foto bersama, beberapa peserta ada yang kemudian jadi membahas tentang bagaimana proses riset yang dilakukan oleh Ifa sebagai penulis, karena memang menurut saya pribadi, riset yang dilakukan oleh Ifa sendiri benar-benar cukup meyakinkan sehingga cerita menjadi lebih menarik. Bagaimana proses membuat kopi, jenis kopi apa saja dan berbagai cerita unik dalam pembuatan kopi menjadi daya tarik dari buku ini. Beberapa peserta juga memberikan pengalamannya dalam mengenal kopi dan sejauh mana pengetahuan mereka tentang kopi, hal ini saya rasa cukup menarik untuk diteruskan lebih lanjut, bisa jadi kita bikin sesuatu yang khusus hanya dengan membahas kopi saja. Karena seperti yang ditulis Ifa dalam bukunya tersebut, negara Indonesia itu sebenarnya kaya sekali akan biji kopi.

IMG_20150322_114307IMG-20150322-WA0001IMG-20150322-WA0004IMG-20150322-WA0002

IMG-20150322-WA0000

Pada penghujung acara akhirnya para peserta menjadi lebih akrab satu sama lain, karena kesamaan kesenangan akan buku dan kopi ini bisa jadi sebuah persahabatan yang unik karena bertemu juga di sebuah kedai kopi yang tenang bernama Cokotetra. Saya rasa ketika kita bertemu dengan orang baru dengan kesamaan minat seperti yang dilakukan teman-teman di Klub Baca Bandung ini, akan semakin membuat hidup kita kaya sekali. Klub Baca Bandung baru berumur 1 bulan. Dan bulan April sudah di depan mata sebentar lagi, jangan ketinggalan, kami masih akan terus membaca buku bersama teman sekalian.

Happy reading!

oleh Ariel Seraphino.

[Liputan Kegiatan] Baca Bareng The 100 Year Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared

Awal Maret ini, beberapa anak muda Bandung yang gemar membaca berkumpul dan membaca bersama. Ini adalah cerita Atria Dewi Sartika tentang kegiatan yang berlangsung di bilangan Dago itu.

***

[Liputan Kegiatan] Baca Bareng The 100 Year Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared

Bandung, adalah salah satu kota di Indonesia yang punya banyak komunitas. Berbagai macam komunitas lahir untuk mewadahi berbagai jenis minat orang-orang yang bermukim di Bandung. Begitupun alasan Klub Baca Bandung lahir.

Hari ini, Minggu, 1 Maret 2015, untuk pertama kalinya Klub Baca Bandung melakukan kegiatan. Bertempat di Cokotetra Cafe yang beralamat di Dago 322, para worm (sebutan untuk penggiat Klub Baca Bandung) berkumpul untuk membahas bersama satu buku yang sama.

IMG_20150301_114335

Untuk pertemuan perdana ini, buku The 100 Year Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared menjadi pilihan. Buku dari Swedia yang diterjemahkan oleh Bentang Pustaka ini berhasil mengundang berbagai pendapat dari worms yang hadir.

Dibuka oleh Ariel Seraphino selaku Kapten Klub Baca Bandung, acara dilanjutkan oleh Gelar Riksa Abdillah selaku pembahas hari ini. Gelar berbagi opininya tentang buku 100 Yoman (disingkat). Soalnya judulnya kepanjangan.

Menurut Gelar buku 100 Yoman ini dituturkan dengan menarik. Penulis berhasil menampilkan sosok tokoh utama yang cenderung amoral tapi cerdas. Sosok kakek tua berusia 100 bernama Allan Karlsson ini berhasil menghadirkan humor cerdas melalui petualangan hidupnya bertemu dengan para diktator. Pelarian Allan yang berujung pada perampokan tanpa sengaja yang dilakukannya benar-benar menampilkan kejahatan yang jenaka.

Alur cerita pun menuai tanggapan dari para worm yang hadir. Selain itu cara Jonas Jonasson menampilkan Indonesia dalam karyanya memang “jleb” banget. Hmm.. negatif sih, tapi memang benar.
“Indonesia adalah negara di mana segalanya mungkin” hal. 483

Ini pun menjadi bagian yang dibaca oleh Gelar saat sesi Baca Bareng. Oh iya, dalam kegiatan Klub Baca memang salah satunya ada sesi Baca Bareng. Di sesi ini semua yang hadir bergantian membaca bagian-bagian yang dipilihnya. Setelah seluruh worms yang hadir mendapat giliran membaca, acara pun ditutup.

IMG_20150301_124424

Worms yang hadir di pertemuan perdana.

Sesi foto bersama pun menjadi kehebohan sendiri karena urusan backlight foto. Dan yang menyenangkan adalah ada 2 orang yang beruntung memenangkan doorprize. Wah seru banget ya! Datang dan bahas buku. Ketemu teman-teman baru. Dan pulang bawa hadiah.
Yang Beruntung dapat Doorprize.

CYMERA_20150301_231413
Mau ikut juga? Boleh banget. InsyaAllah tanggal 22 Maret, Klub Baca Bandung akan kembali membahas buku. Kali ini akan membahas buku “28 Detik” yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Jangan lewatkan ya, karena penulisnya juga akan hadir lho. Tempatnya? Masih sama. Di Cokotetra Cafe yang sangat cozy.

Tulisan diambil dari blog Atria Dewi Sartika, http://atriadanbuku.blogspot.com/