Nulis Bareng Rak Buku

Dengan mengambil tempat di sebuah café dan resto menarik di tengah kota Bandung, Penerbit Rak Buku menyelenggarakan sebuah acara talkshow buku dan mini workshop kepenulisan dengan mengundang beberapa penulis. Acara dimulai tepat pukul 16.00, dipandu oleh Adit sebagai MC, sesi pertama mereka mengundang Risa Saraswati untuk berbicara mengenai buku terbarunya berjudul R.I.S.A.R.A. yang kali ini merupakan hasil kolaborasi dengan Sara Wijayanto.

Risa bercerita bahwa buku ini awalnya merupakan hasil ketidaksengajaan karena kedekatan teman-teman hantu kecil Risa yang juga dekat dengan Sara. Karena seperti yang kita ketahui bahwa Risa dan Sara memiliki kemampuan untuk melihat makhluk gaib seperti hantu. Risa bercerita dalam hal membangun kesamaan visi membangun sebuah cerita kolaborasi ini, tidak terdapat kesulitan yang berarti, Risa mengisahkan, bagaimana mereka lebih sering berkomunikasi melalui email dan media chatting Whatsapp meski mereka jarang bertemu karena jadwal dan kota yang berjauhan.

Satu hal yang Risa selalu ingin tekankan kepada para pembacanya adalah tentang bagaimana ia berusaha menampilkan sisi humanis dari hantu-hantu kecilnya ini sehingga bisa diterima oleh orang yang membacanya. Karena seperti yang kita ketahui selama ini, jika ada sebuah tulisan bergenre horror dan misteri, kesan yang ingin dibangun adalah tentang bagaimana hantu itu seram, menakutkan orang yang melihatnya dan lain-lain. Oleh karena itulah Risa lebih tertarik untuk mendengar kisah-kisah dari hantu ini ke dalam tulisannya. Tapi ketika ditanya apakah hantu-hantu yang selama ini ia lihat menakutkan baginya, Risa sendiri membenarkan hal tersebut.

Dalam kaitannya dengan dunia tulis menulis, tantangan yang beliau hadapi saat ini adalah bagaimana menggambarkan sebuah kisah horror yang pada dasarnya bisa diceritakan dalam satu-dua kalimat saja menjadi sebuah cerita yang menarik untuk dibaca dalam sebuah buku. Risa sendiri mengakui bahwa beberapa gaya kepenulisannya sangat terpengaruh dengan bahan bacaan yang biasa dia baca seperti Goosebumps. Sedikit banyak cerita-cerita horror tersebut mempengaruhi gaya bahasanya dalam cerita. Namun ketika ditanya bagaimana caranya agar mampu menulis dengan baik, beliau menyarankan untuk selalu memposisikan diri kita sebagai pembaca ketika tulisan kita sudah selesai.

Risa bercerita bahwa dia tidak pernah menghapus tulisan yang pernah dia buat. Semuanya tersimpan rapi dalam satu folder khusus. Bahkan ketika mulai menulis salah satu bukunya berjudul Ananta Prahadi yang notabene merupakan sebuah karya fiksi romance, beliau mendapat ide dari kumpulan tulisan-tulisan yang belum selesai dalam folder khusus tersebut yang pada awal menulisnya dia menganggap kurang bagus. Risa berpendapat sangat penting untuk bisa mendapatkan cerita kita dibaca oleh orang lain terlebih dahulu. Karena itu dia sering sekali beberapa ceritanya dimunculkan dalam blognya sedikit demi sedikit untuk melihat respon dari pembaca blognya.

Setelah sesi tanya jawab berakhir dan waktu menunjukkan waktu maghrib, ada jeda break untuk sholat dan makan yang memang telah dipersiapkan oleh panitia dari Rak Buku. Beberapa peserta kemudian mengambil makanan dan sembari makan acara kembali bergulir, di luar hujan rintik-rintik perlahan menjadi deras, mengaburkan suara dari microphone yang digunakan oleh pembicara. Di atas panggung telah ada Dewi Fita selaku Editor-in-Chief dari Penerbit Rak Buku yang telah hadir untuk memberikan insight dari pihak penerbit dalam kaitan dengan kepenulisan dan penerbitan.

Dimulai dengan menjelaskan track record dari Penerbit Rak Buku yang meski merupakan pemain baru dalam industri buku di Indonesia, tetapi telah mampu menghasilkan beberapa penulis dengan karya yang best-seller secara nasional, seperti buku-buku Risa Saraswati, Ernest Prakasa, dan yang paling terbaru adalah adari Info Watir. Dalam mencari karya-karya yang menarik ini, Dewi berkata bahwa kekuatan ceritalah yang nantinya akan membuat sebuah buku itu menjadi buku yang bagus. Bahkan di tengah begitu maraknya teknologi saat ini, dunia kreatif seperti industri buku menghadirkan sebuah peluang baru ke mana saja bagi para penulis.

Kemudian berlanjut dengan obrolan kepenulisan dengan dua narasumber yang telah hadir yaitu Mahir Pradana dan Theoresia Rumthe atau yang sering para blogger kenal sebagai @perempuansore Dalam kaitannya dengan mencari ide, Theo mengatakan bahwa ide itu ada di mana saja. Ide bukanlah sesuatu yang harus kita baca dari buku atau melakukan riset di perpustakaan dengan membaca, tetapi ide kadang datang dengan cara-cara yang sederhana. Beliau mengisahkan bahwa ia kerap menulis di jam 4 sore. Mengapa di jam 4 sore? Karena di waktu itulah dia merasa menemukan mood paling bagus untuk menulis, di samping rutinitas bangun pagi yang sulit dia lakukan. Mood menulis ini menurutnya penting untuk didapat, karena dengan begitu dia merasa mampu untuk menulis apa saja. Kebiasaannya menulis pun dimulai sejak dulu ketika beliau masih aktif menulis diary dan berlanjut hingga menjadi blogger sekarang.

Berbeda dengan Mahir yang mengatakan bahwa rutinitas menulisnya sendiri merupakan sesuatu yang menjadi pekerjaan sampingan baginya. Waktu yang paling tepat baginya untuk menulis adalah sebelum tidur malam hari. Beliau sendiri bercerita bahwa kadang cerita-cerita yang dia tulis berangkat dari mimpinya di malam hari, ketika bangun dari tidur sendiri, tidak jarang Mahir mencatat apa yang dia impikan. Ketika ditanya bagaimana tips yang bisa dilakukan ketika di tengah proses menulis kita malas untuk melanjutkannya, Mahir menjawab dengan mengambil sebuah kuotasi dari Windy Ariestanty yang mengatakan bahwa ‘menulis bukan pekerjaan untuk pemalas’ meski menyadari bahwa writer’s block sendiri memang ada, Mahir lebih memilih untuk tulis saja semua yang bisa ditulis.

Dalam sesi tanya jawab yang mengalir dan penuh dengan keseruan tersendiri itu, saya melihat bahwa sebenarnya tidak ada rahasia dalam menulis dan menjadikan karya kita sesuatu yang baik untuk dibaca oleh orang banyak. Bahkan Dewi Fita mengatakan bahwa tidak ada cara yang untuk menulis baik selain dengan menulis. Mungkin yang menjadi persoalan adalah kebanyakan penulis pemula melakukan penundaan untuk menulis meskipun sudah ada ide itu. Padahal yang dibutuhkan ide hanyalah untuk ditindaklanjuti.

Acara hari itu berakhir dengan sesi foto bersama dan meski hujan sudah reda di luar sana, beberapa peserta masih terlihat mengambil kesempatan untuk berfoto bersama dengan narasumber yang telah hadir. Bertemu dengan orang-orang di belakang layar dari sebuah penerbitan bagi saya pribadi merupakan sebuah keistimewaan, seolah-olah kita bisa belajar banyak untuk melihat bagaimana penerbit selaku investor dalam industri ini memegang peranan penting dalam proses penerbitan sebuah buku. Dan penulis tentunya diharapkan mampu memberikan sebuah karya dengan keunikannya masing-masing.

Saya berharap dari acara-acara kecil seperti ini, dengan intensitas dan semangat untuk maju, akan dihasilkan penulis-penulis muda berbakat yang bisa memberikan kontibusi bagi dunia kepenulisan baik di Bandung atau di Indonesia. Semoga.

Salam.

Ariel Seraphino

Iklan